curhat saya tentang fotografi

Minatku di dunia fotografi membuat aku berminat untuk mempelajari tentang fotografi. Kesenanganku ini berawal ketika kakak ku membeli kamera digital Nikon p1, kalo nggak salah serinya itu. Sejak saat itu saya langsung mencari buku di gramedia untuk me-retouch foto digital. Nama juga bocah ingusan, potret sana potret sini hmmmmm kalo ini masih pake film, udah buang buang duit ajah. Untung nya digital, kalo nggak suka tinggal di buang saja ke tong sampah, didelete maksudnya hehehe. Sebenarnya sih ayah saya dulu juga sempat berkelana di dunia fotografi. Hal ini terbukti ketika saya menemukan sebuah brangkas yang isinya kamera dan lensa lensa, ada filternya juga kalo nggak salah. Wew ternyata lenkap juga nih alat babe hehehe. Tapi sayang, hobi itu tidak bertahan lama dan mengakibatkan semua perlatan itu hanya menjadi barang sudah tidak terawat lagi. Kemaren saya mencoba membersihkan lensa ayah saya, kalo nggak salah sih 300mm khusus buat kamera canon yang masih analog. “Oh mas ini sudah tidak bisa di bersihkan, jamurnya sudah lenket banget” kata orang di toko kamera yang telah di rekomendasikan oleh temen saya.

Meski hanya dengan kamera digital poket tidak akan menurunkan semangat saya tentang dunia fotografi. Saya selalu mencoba memperlajari cara kerja kamera saya. Berhubung mode manual nya tidak ada. Jadi saya bisa menggunakan mode A ntah apa singkatanya. Yang jelas di mode ini kita masih bisa mengendalikan difragma dan flash. Mencoba mengotak ngatik diafragma, kalo besar kaya gini, kalo kecil kaya gini. Saya juga mencoba baik buruk nya menggunakan flash.

Perjalanan saya selanjutnya dalam dunia fotografi, saya mendaftarkan diri dilembaga pers mahasiswa(LPM) profesi yang pada saat itu lagi musim rekruitmen. Sebenarnya sih saya nggak tertarik jadi wartawan, tapi berhubung ada fotografinya hmmmm kali ajah saya bisa belajar disana. Yayaya hasilnya saya keterima di lembaga tersebut. Disana saya belajar menggunaka kamera yang manual analog. Dikamera itu semua nya serba ngatur sendiri, mulai dari rana, diafragama, sampai focus. Kita Cuma ada dibantu dengan light meter yang ada didalam jendela view kamera( yang sering kita intip untu membidik sasaran foto) hmmm yayaya lumaya susah sih. Hanya perlu sedikit adabtasi dan latihan kecepatan tangan. Sebap untuk foto jurnalistik menggunakan kamera ini otak kita dan tangan kita harus saling berkerja sama dengan cepat. Sambil tangan mengatur diafragma, rana dan zoom sementar itu otak kita sedang memperhatikan komposisi yang tepat. Disitulah tantangannya. Seperti biasa semakin besar tantangannya akan semakin besar kepuasanya hehehe.

Namun sekarang apa yang terjadi dengan saya.

Sekarang saya sudah menguasai ilmu ilmu fotografi, hmmm iya sih masih di permukaan, ya paling tidak saya paham dengan komposisi, lighting dikit. Dan kinerja kamera yang berdasarkan dari perpaduan iso, rana, diafragma dan zoom. Jabatan yang di percayakan kepada saya adalah kabid rgf . hmmm makasih atas teman teman yang telah percaya kepada saya untuk memegang tanggung jawab jabatan itu. Sekarang permasalah nya adalah………

Sampai sekarang saya nggak punya kamera… pelan pelan curhat nihh. Kok perasaan makin banyak aja yah orang orang yang punya kamera. Ntah sok sok an biar keliatan keren megang kamera??? Atau mereka adalah orang yang memang kreatif di dunia itu weweww pokoknya iri tenang lah….sabar sabar zacky hehe. Sering juga saya lihat orang yang mempunyai kamera yang mahal yahhhhh sekitaran harga untuk kemera yang professional lah. Tapi saya sampai sekarang belom pernah melihat karya terbaik orang orang seperti itu. Kadang saya berfikir…..mereka itu orang yang low profile atau emang nggak bisa apa apa yang menutupi kemampuan dengan kameranya, hmmmm ya bisa di bilang kemahalan alat dari pada skill nya…..wew sombong juga ya saya… maaf kalo ada yang tersinggung.

kadang saya berfikir, seorang fotografer akan terlihat perofesional jika di lihat dari alat yang mereka miliki. Ya mau gimana lagi yah…semakin banyak alat seperti flash, lensa yang bermacam macam akan mempersarani seorang fotografer untuk mewujukan foto yang diinginkan, hmmm begitu yah….mahal juga yah jadi fotografer.

Sekian curhat saya tentang fotografi. Sedikit pesan saya, hidup itu tidak semulus jalan tol, tapi pasti bisa dilewati. Asal ada kemauan pasti ada 1000 jalan kalo udah nggak ada kemauan 1 rintangan bagaikan dinding yang tak bisa di hancurkan.

4 pemikiran pada “curhat saya tentang fotografi

  1. yoi zak, ntah karena lagi tren ato apa makin banyak aj yg punya DSLR gitu. yang saia agak males buat apa ribet2 pake DSLR kalo toh foto itu bakal di edit juga dan proporsisinya lebih banyak di editan

    dulu pengin juga mendalami fotografi sama sperti kamu makanya seneng bgt tuh dmasukkan k RGF. tp dalam perkembangannya krn logistik pribadi tdk ada [cuma ada pocket] dan mengandalkan punya prof yg analog itu juga ribet makanya ak pindah haluan jadi mempelajari tulis menulis.

    skrg malah udah lupa sama sekali tuh sama teknik foto2an itu. pdhl dulu sama mas tupai smpat ‘privat’ juga sambil hunting ke mana2 hahhha

  2. jangan pernah menyerah brow…………. dengan dunia fotografi karena dunia ini bukan hanya menjanjikan tapi juga bisa modal elo kalo ngak bisa jadi fotografer elo bisa jd tukang foto keliling he2. liat cerita elo sama kaya gue, gue sering motret pake kamera pocket yg cuma 3 megapiksel tapi gue ngak minder tuh…………….. nyantai aja selama elo dah tau dasar dari fotografi dan selama elo bisa minjem alat kamera ke temen2 elo santai aja………… toh elo dah punya satu modal ilmunya kembangin terus karya dengan media foto apa saja (handphone, pocket atau kamera slr) semuanya sama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s