lanjutan bimo

#Bimo first side

Di malam yang begitu dingin dan bersalju*pengennya sih, tapi berhubung ini di Indonesia, adanya juga hujan ama panas* maksud saya berhujan lebat. Di sebuah kota kecil *bisa dibilang kampung* yang hampir tidak terlihat dipeta terbaru maupun di google eart. Di sebuah rumah yang begitu sederhana, rumah yang terkadang membuat warga sekitar tidak tau apakah rumah tersebut berpenghuni atau tidak. Malam itu tidak ada satu suara pun selain suara hujan yang begitu lebat dan disertai gemuruh suara gledek yang sering membuat hati setiap orang mendengarnya menjadi takut dan khawatir.

Dirumah itu, yang lampunya sedang bergoyang goyang karena di terpa angin yang berusah masuk melalui celah celah kayu yang berongga, ada seorang wanita yang sedang berjuang di antara hidup dan matinya. Berjuang agar anak yang di kandung bisa terlahir dengan sehat dan sempurna. Wanita itu bernama susi. Ini merupakan kelahiran anak pertamanya. Dengan ditemani oleh seorang bidan desa, atau yang biasa di bilang dukun beranak, proses itu terus berlangsung.

Hampir memakan waktu 3 jam, akhirnya anak dalam kadungan itu dapat melihat dunia. Dengan tangis yang mengetarkan rumah itu. Ini adalah anak pertama bagi susi dengan suaminya yang telah tiada karena kecelakaan .Ini juga anak laki laki pertama yang lahir setelah 5 tahun terakhir di kampung itu. anak laki laki yang baru terlahir itu adalah gw, bimo. Kata emak gw, kelahiran gw adalah sebuah anugrah yang tak ternilai dalam hidupnya. Ya gw tau, pasti semua orang tua bakal bilang kaya gitu kepada anak. Kecuali kalo tampang gw kaya tukul, munkin emak gw bakal bilang kalo gw petaka tak ternilai dalam hidupnya hahaha.

Lanjut ke perjalana hidup gw yang masih seumur jagung. Mank umur jagung berapa yah???hehe. kata emak gw, waktu gw kecil, gw seneng banget tidur degan mata tertutup, soalnya kalo tidur dengan mata terbuka, mata gw perih. Ya iyalah…hahah.

Memasuki usia wajib belajar 9 tahun. Gw di sekolahin di sebuah sekolah yang seragam anak anak memakai celana merah dan berbaju putih. Sekolah itu diberi nama, SD pupus harapan. Karena gw dulu masih kecil, gw nggak terlalu peduli dengan nama itu. Tapi sekarang, gw agak terheran heran. Munkin dulu maksudnya tunas harapan, tapi karena nggak ada harapan yang terkabul, maka jadilah nama SD itu pupus harapan.

Gw termasuk siswa yang berbadan gembul, waktu itu. Berkaca mata, berambut belah tengah dan berkringat. Setiap gerak tubuhku memerlukan energi yang sangat besar, maka dari itu badan gw selalu berkringat. Agak susah untuk diriku saat itu untuk memproleh seorang teman, apalagi teman wanita. Dari sekian banyak wanita yang menutup hidungnya, ada seorang wanita yang tidak melakukan itu. Dia lah wanita yang gw inget setelah emak gw. Dan dialah juga wanita pertama yang tidak terlupakan setelah emak gw.

Tobe contune

2 pemikiran pada “lanjutan bimo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s