malam misteri

Malam ini hujan begitu deras. bajuku, celanaku, hingga celana dalam ku sudah tak mampu lagi menahan laju air untuk membasahi permukaan kulit tubuhku. Dingin nya sudah mulai menusuk tulang dan mendirikan bulu roma ku. nafas ku mulai berembun sebagai tanda betapa dinginnya malam ini.

aku mulai kelelahan. Konsentrasi ku mulai buyar, tapi aku harus tetap menenteng sepeda motor ku yang bocor. Aku mulai teringat pesan dari orang tua ku dirumah.

“le, jangan lupa bawa jas hujan mu walaupun cuaca panas sekali pun”

Dan aku mulai menyesal tidak mengubris nasehat itu, sungguh sangat menyesal.

ingin rasanya aku berhenti sejenak mendorong kendaraan ku, berteduh bersama mereka yang sedang menunggu hujan reda di setiap teduhan jalan. Tapi aku tak bisa, aku harus segera mencari tambal ban yang bisa menyelesaikan salah satu permasalahan ku. Sambil jalan tak menentu arah, aku mulai bingung mau kemana sebenarnya aku ini. aku tidak tau tambal ban mana yang terdekat saat ini, saat aku bediri di sebuah persimpangan jalan ini. ntah aku akan berjalan terus, ntah aku akan berbelok kekiri, berbelok kekanan, atau aku malah berbalik arah untuk melihat sekali lagi jalan yang telah aku lalui tadi.

Aku hanya ingin menemukan tempat tambal ban, hanya itu yang ada di dalam pikiran ku sekarang. ingin rasanya aku bertanya pada mereka yang sedang berteduh di persimpangan itu. Tapi wajah mereka amat begitu pasif, sepasif orang yang mati kedinginan. Arggh ada di mana aku sebenarnya???apakah aku sedang ada di kota hantu?, kota mati?, atau aku sedang ada di dalam mimpi?? Aku teruskan perjalanan ku. aku tentukan arah ku dengan tanpa suatu logika yang pasti, aku memilih jalan berbelok kekanan. Gerakan kepala mereka ikut berputar seiring aku meninggalkan persimpangan itu, sunggu tidak berekpresi wajah mereka.

Aku terus berharap, semoga tidak lama aku akan menemukan tempat tambal ban. Sekitar 30 meter dari persimpangan tadi, aku menemukan sebuah pemandangan yang membuat aku yakin itu adalah tempat tambal ban. Aku masuki tempat itu, kucari keberadaan seseorang penambal di tempat itu. Aku menemuka seseorang yang sedang tertidur di kursi yang sudah mulai tidak nyaman lagi untuk di duduki, tapi bapak itu tertidur begitu pulasnya. Tampaknya bapak itu tertidur ketika sedang menonton tv, kesimpulan ini aku dapatkan karena tangan bapak itu memangku sebuah remot tv dan tv hitam putih yang masih menyala.

“Pa, bangun pa” usahaku untuk membangunkanya.

“uhmm” hanya itu yang aku dengar responya.

“pa,bangun pa, saya mau nambal” usahaku dengan suara sedikit lebih keras dari sebelumnya

Tiba tiba mata bapa itu langsung terbuka tanpa perlahan lahan. Dari expresinya aku bisa menyimpulkan bapak itu sangat terkejut dan berhati hati.

“saya minta tolong tambal ban pa”

“oh iya mas, silakan duduk” kata bapak itu dengan suara yang begitu gugup

Aku pun langsung duduk di kursi yang di sedikan bapak itu, kursi kayu yang sederhana. Bapak itu mulai mengarap motor ku, dan aku menunggunya sambil menonton tv yang sudah nyala dari tadi. Tv itu menyiarkan berita yang terjadi hari ini. ada sebuah kecelakan bus tadi siang. Bus itu tiba tiba hilang kendali karena supirnya mengantuk. Akibatnya bus itu menabrak semua orang yang ada di dalam halte tersebut dengan kecepatan yang fatal. Tak ada orang yang selamat dari halte tersebut. Sadis ajah pikirku.

Siaran pun aku ganti dengan remote yang aku proleh dari kursi yang diduduki bapak tadi. Ku tekan tekan tombol yang ada, tapi tak satu hal pun yang terjadi pada tv itu. Ah, munkin remotenya emank rusak. Aku mencoba menekan tombol merah yang biasa di gunakan untuk menghidupkan dan mematikan. Dan benar fikir ku, remote tv ini memang benar benar rusak. Ada sesuatu yang masih menganjal di pikiran ku. jika memank remote tv ini rusak, terus kenapa bapa tadi tertidur dengan remote tv yang masih ada di pangkuannya. Logikanya jika aku melihat keadaan seperti itu, bapak tadi pasti mengunkan remote itu untuk mengedalikan tvnya. Tapi ya sudahlah, aku tak terlalu ingin mengunakan kepalaku untuk memikirkan itu, masih ada satu lagi persoalan yang harus aku pikirkan malam ini.

“Mas, ban nya sudah saya tambal mas”

“Oh sudah ya pa, cepet ajah, berapa ya pa?”

“7rb aja mas”

Setelah ban sudah tertambal, maka permasalah ku malam ini sudah berkurang satu. Aku pun bersiap siap untuk meninggalkan tempat tambal ban itu. Tampaknya bapak itu juga akan tutup. Tiba tiba bapak itu memenggang remote tv tadi dan langsung mematikan tv dengan remote itu, dengan santai. Padahal aku sudah mencoba melakukannya berkali kali sebelumnya. Hmm malam ini memang penuh dengan keanehan fikirku. Tapi ya sudah lah, aku harus meneruskan perjalan ini.

Sekarang sudah jam 10 malam. Keadaan jalan sudah sangat sepi. Hujan pun juga belum berhenti. Aku mengelilingi kota ini untuk mencari toko bunga. Sangat tidak munkin menemukan toko bunga yang masih berjualan jam segini, tapi aku harus terus mencari. Aku ingin menjadikan malam ini malam yang indah buat seseorang. Seorang kekasih yang sedang berulang tahun.

Aku nyaris putus asa, tapi apa munkin aku harus nyerah sekarang. Belum, aku belum putus asa, aky hanya perlu istirahat sejenak. Aku duduk di sebuah teduhan yang bisa halangi hujan basahi tubuhku. Aku kelelahan untuk melanjutkan perjalan ini. ku tundukan kepalaku. Bersandar pada lenganku yang kuletakan di sebuah meja kayu. Aku berusaha untuk tidak tertidur. Aku hanya memejamkan mata, tapi aku masih tersadarkan. Pelan pelan kesadaraku mulai buyar, aku kuatkan lagi.

Tiba tiba saja ada yang memegang pundaku. aku cukup kaget kejadian seperti itu, tanpa suara langkah kaki, tampa tanda tanda yang biasa tertangkap pengindraan manusia, tiba tiba ada orang di belakangku. Seorang anak kecil berbaju terusan berwarna merah, berambut panjang, dan pipi nya cukup tembem. Anak itu cantik sekali. Jika kulihat dari keadaan fisiknya, anak itu berumuran sekitar 13 tahun, ya terlalu kecil untuk berada diluar rumah di tengah malam seperti ini.

“ada apa de?”

“kakak ingin beli bunga?”

aneh, terlalu aneh bahkan. Anak itu tiba tiba sajah menebak, atau munkin memang sudah tau bahwa aku sedang mencari bunga.

“ade penjual bunga?”

“bukan kan, tapi saya punya bunga yang rencanya akan saya berikan kepada ibu saya”

“Terus kenapa de?”

“saya ingin memberika bunga ini kepada kakak saja”

“Loh kok kenapa tidak jadi kamu berika kepada ibu kamu?”

“Tidak bisa kak, saya.. saya…”

Ntah kenapa aku mulai merasa cuaca malam itu menjadi lebih dingin. Lebih dingin dari wajah anak gadis itu. Angin bertiup lebih kencang, membuat air menerpa wajah ku, aku terbangun. Owh ternyata aku tertidur, ntah berapa lama aku tertidur di meja itu. Aku tegakkan tubuh ini, sedikit meregangkan tulang tulang yang merapat akibat membukuk terlalu lama. Aku terkaget lagi. Ternyata di atas meja, tepat di depan aku menundukan kepala. Ada seikat bunga mawar merah yang sudah terbungkus begitu rapi. Bunga itu persis seperti apa yang aku lihat di dalam mimpi.

Pikiran ku langsung terisi dengan argument argument yang mengerikan. Hantu,setan,jin dan kawan-kawan serasa sedang menggelitik bulu bulu yang ada di belakang leher ku.  aku masih terdiam terpaku. Pandangan ku masih tertuju pada seikat bunga mawar yang terletak di meja. Aku coba tenangkan diri ku dengan sejuta argument logika positif yang masih berusaha mengalahkan argument mistis yang masih terbang terbang di otak ku. mungkin bunga itu sudah ada di meja itu, tapi karena aku terlalu lelah sehingga aku tidak melihatnya. Atau munkin mata ku sudah terlalu lelah untuk melihat warna merah yang teredam dengan cahaya remang lampu di teduhan ini.

Setelah mental ku sudah mulai tenang, kenapa bunga ini tidak ku berika saja kepada pacarku. Numpung tidak ada yang punya, ku bawa saja bunga ini. bungan ini tidak terlalu jelek untuk di berika kepada seseorang yang sedang berulang tahun. Hujan sudah mulai reda. Ku bawa bunga itu menuju rumah kekasih ku. suasana sudah mulai tenang, tampaknya usai sudah runtutan misteri yang ku alami malam ini.

10 menit kemudian aku sudah sampai di rumah besar yang mempunyai pagar yang terlihat megah. Aku mulai berfikir bagaiamana caranya agar pacar ku keluar tanpa aku harus mengetuk pintu depan rumah nya. Melempar batu kejendela kamar? Ya munkin ini ide yang bagus. Aku mulai mecari batu batu yang cocok untuk di lempar, tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil.ada sekita 5 batu yang seukuran kelerang untuk aku lempar. Lemparan pertama tidak terlalu meberi dampak. jendela itu masih tidak bergerak. Aku berharap jendela itu terbuka. Lemparan kedua tepat mengenai kaca bagian tengah. Dan aku pikir itu sudah menghasilkan suara yang cukup keras. Setidakanya orang yang tertidur didalam akan terbagun dengan suara itu. Dan lemparan ketiga aku mencoba lebih keras lagi. Ketika batu masih melayang di udara, ternyata jendela itu terbuka. Ketika orang yang membuka djendela itu sedang melihat siapa yang membuat keributa, batu itu tepat mendarat di jidatnya, opss. Benjolan di jidat itu munkin hadiah pertama yang aku berikan kepada orang yang membuka jendela itu, kekasihku.

Ke esokan harinya aku terbangun lebih siang dari biasanya. Munkin karena terlalu lelah mengalami runtutan kejadian misteri semalam. ku tonton tv yang ada di depan tempat tidur ku. kusaksikan berita yang agak membuat bulu kuduk ku merinding di pagi hari. Ada sebuah bus yang kecelakan di sebuah simpangan. Pengemudi bus itu mengantuk, dan akhirnya menabrak halte bus. Korbanya adalah supir itu dan seluruh orang yang ada di halte itu. Halte itu adalah halte yang aku lihat semalam. halte yang semua orangnya  seperti membeku. Musibah ini juga menimpa seorang gadis kecil yang berbaju merah. Gadis kecil itu yang memberi bungan padaku.

2 pemikiran pada “malam misteri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s