GW DAN KUCING PERSIA

Lanjut lagi cerita pengalaman gw hidup berdampingan dengan makhluk berkumis dan berbulu ini. kalo hanya berkumis munkin bisa saja disalah artikan, semisal ikan lele(yang ini mah jadi makanan gw di jogja), atau pak kumis(bisa siapa saja, yang penting berkumis). Setelah gw mengalami peningkatan gengsi, dari yang tadinya mengadobsi kucing kampung, sekarang membeli kucing persia. Beda bangetkan, mengadobsi dengan membeli, lebih elit membeli lah. Persia juga beda dengan kampung, jauh lebih elit yang persia dounkss, hehehe.

Tampaknya mitos gw yang memelihara kucing pasti kucing itu mati, tidak berlaku dengan kucing sekelas persia. Ini terbukti dengan awetnya si mili(nama kucing persia pertama gw) di rumah gw. si mili nggak pernah tidur di bawah mobil, soalnya si mili nggak di bolehin keluar rumah. Kata bokab, si mili nggak boleh gaol sama kucing kampung yang nggak berandalan itu, nanti si mili bisa jadi fansnya the brandals. Yang kami takutkan jika mili sampai keluar rumah, dia tidak kembali pulang. Karena si mili adalah kucing persia, berbagai kemunkin terburuk bisa saja terjadi di luar rumah, misalnya doi diculik, terus dijual, kasiankan.

Si mili memiliki karakter selayaknya kucing betina pada umunya. Kalem, pendiam, tidak banyak tingkah, dan angun. Namanya juga kucing, no body perfect gitu. ada kalanya si mili ini juga nujukin tingkah tingkah anehnya. Pernah suatu ketika si mili sangat energik, saking energiknya doi memecahkan tempat makan yang ada di kandangnya. Si mili sangat takut dengan benda besar yang bergerak. Misalanya, vakum cleaner, kursi yang bergerak, dan lain nya. Si mili juga takut dengan suara hairdrayer, jadi agak susah kalo ngeringin bulu nya setelah mandi, apa lagi kalo dia keringetan(emank ada gitu kucing keringetan??).

Kami ngerasa mili kesepian dirumah ini. kehadiran kami tampaknya tidak cukup untuk mengisi kesepian dia dirumah ini. kelihatanya si mili sangat ingin punya teman sesama kucing. Mili ingin bergaul. Mili hanya bisa melihat kucing kampung sedang asik bermain di jalan hanya dari teralis pintu rumah gw. malang sekali nasib mu mil mil nggak bisa jadi anak gaol. Lama lama gw kasian juga ngeliat si mili yang kesepian ini. gw pun mengusulkan untuk membeli kucing persia satu lagi ke kakak gw. kalo bisa jantan, agar si mili bisa tenang lahir dan batin, heheh.

Beberapa bulan kemudian, rumah kami kedatangan penghuni baru. Seekor kucing persia jantan hadir dirumah ini. berasal dari ras HIMALAYAN yang terkenal dengan pamornya sebagai kucingnya para penyihir jaman dolo kala. Mempunyai dominan warna putih dengan warna coklat di bagian wajah, telingan dan keempat kakinya. Kucing ini kami beri nama Mobi dick, atau bisa dipanggil mobi. Di awal awal, mobi masih beradaptasi dengan linkungan rumah. Mobi mengendus sana ngedus sini, termasuk ngedus ngedus si mili. Saling ngendus biasa terjadi di dunia kucing, ini bisa di artikan seperti jabat tangang. “Hai nama gw mobi, gw kucing gaol dan cool loo” munkin kira kira begitu mobi memperkenalkan dirinya kepada si mili, si mili jual mahal.

Seiring berjalan nya waktu, naluri kebinatangan tak bisa di sembunyikan lagi. Gw sering banget ngeliat adegan liveshow mereka ketika menuntaskan birahi. Si mili pun hamil, dan mobi pun puas, ”yes gw berhasil”, munkin begitu yang dikatakan mobi dalam hati.

Ntah alasan apa yang membuat kakak gw memberi nama nih kucing mobi dick. Yang jelas, kata dick di belakang namanya sangat mempengaruhi sifatnya yang ke dick dick an, alias mupeng. Ini bisa dihubungkan dengan beberapa kali si mili telah hamil akibat perbuatanya. Tidak berhenti disitu, si mobi melakukan poligami tanpa persetujuan si mili. Akibatnya si mili hanya bisa terima nasip di madu. Mobi melakukan poligami dengan kucing persia pemebrian temen kakak gw. kucing betina satu ini diberi nama neha, dengan warna orange ke emas emasan.

Jika dihitung hitung, ada sekitar 9 kucing persia yang pernah mengisi ramainya rumah ini. ada yang di jual, ada yang mati, dan ada yang diberikan kepada orang lain. Yang paling lama bertahan tentu adalah indukanya, yaitu mili, mobi dan neha.

Ketika kaka gw beranjak untuk menikah, semua kucing di rumah ini di jual ntah kemana. Yang jelas ketika gw balik kerumah ketka liburan bulan puasa, ke 3 kucing indukan itu udah nggak ada. Sedih sih, tapi emank siapa juga yang ngurus mereka? Masa bokab gw, nggak munkin kan. Dengan perginya mereka, berakhirlah kisah keluarga ini dengan binatang peliharan. Sekarang, hanya kucing kampung yang suka singgah di sini untuk meminta ikan sisa makan keluarga gw.

selamat tinggal mili, mobi, neha, dan semua anak kalian. Jangan nakal disana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s