BALADA KRISIS MERAPI

Numpung masih hot hotnya tersimpan di dalam otak gw, otak isinya cerita cerita nggak jelas. Gw mau cerita tentang kejadian semalam hingga pagi menjelang. Kejadian tentang kepanikan gw, kegilaan gw, kekonyolan anak kos gw, dan munkin juga kelebaian gw dalam menyikapi kehebohan merapi

Gw baru ajah kelar maen game di kamar temen gw. berhubung gw belom nonton tv, gw mulai kerasa aneh ajah dengan keadaan jalang yang begitu ramai. Sangat ramai, lebih ramai dari iringan pendukung keseblasan sleman yang biasa menggunkan kostum berwarna hijau. Gw pun berencana balik kekamar, tidak memperdulikan keramaian yang terjadi. Baru saja turun dari tangga, 2 orang lagi kerluar kamar, berikutnya ada lagi, dan terus hingga akhirnya pada keluar kamar semua. Gw pun bingung, kantuk yang tadi melanda berganti dengan bingung tetang apa yang sedang terjadi, oh ada apa dengan dunia ini *berteriak dalam hati*. Selidik punya selidik, ternyata barusan merapi meletus lagi.

Kepanikan mulai terjadi di kos gw ketika taburan pasir jatuh dari langit. Pertama gw kira ini hujan air, tapi ternyata hujan pasir. Pelan tapi pasti hujan pasir makin lebat, ini lah puncak kepanikan gw. tapi gw masih kalah panik dengan teman gw yang masih tertidur pulas di kamarnya. 2 orang dari kami, termasuk gw, langsung berinisiatif membangung satu penghuni terakhir yang masih tertidur pulas ini. dengan suara parno kami, di dukung lagi dengan kericuhan yang terjadi, alhasil nih ana terbangung sambil teriak teriak nggak jelas. Bukanya tambah panik, semua penghuni malah ngakak melihat kejadian itu.

Balik lagi dengan kepanikan gw. gw pun melakukan persiapan untuk mengungsi ke tempat sepupu gw yang ada di daerah seturan. Gw mulai memilih dengan cepat barang apa ajah yang akan gw bawa ketempat pengungsia. Apakah harus bawa home theater gw, atau gw harus bawa kasur air gw, atau munkin juga gw harus bawa pigura yang berisi foto narsis gw yang berukuran besar. Berpikir sejenak hingga akhirnya tersadar, gw tidak punya barang barang selebay itu untuk ukuran anak kos. Satu satu yag paling berharga dari isi kamar gw adalah laptop ini, laptop sedang kugunakan untuk menulis cerita ini. setelah beberapa menit, gw pun siap untuk mengungsi. Gw membawa laptop dan satu hal yang tak bisa gw tinggal ketika berpergian, sempak. Gw paling nggak bisa melewati hari  tanpa berganti sempak/cd.

Bukanya langsung cabut kebawah, gw malah di ajakin nongrong di kamar temen yang biasa di gunakan untuk berkumpul dan ngalur ngidul nggak jelas. Setelah beberapa lama, kami pun memutuskan untuk mengungsi. Mengungsi ntah kemana, tanpa tujuan. Kami semua terus berjalan, jauh, dan jauh dari merapi. Kondisi jalan sangat ramai, kabut masih menutupi jarak pandang. Dengan bermodalkan surban yang gw jadikan masker, gw arungi hujan kabut ini. Ketidak jelasan kami pun berhenti di amplas(mall). Ini mau ngungsi atau mau dugem sih, kok malah kemaplas(caesar). Kami menghabiskan waktu dengan ngalur lidur lagi. Hingga waktu menunjukan jam 4 pagi, baru kami pulang.

Satu pemikiran pada “BALADA KRISIS MERAPI

  1. saya sedih sekaligus kecewa dengan adanya beberapa masyarakat yang menjadikan kawasan bencana di indonesia sebagai kawasan “wisata”. Dalam PR hari ini diberitakan bahwa ternyata ada orang2 yang berusaha mengabadikan bencana tersebut untuk sekedar hiburan saja….akan tetapi bukan hanya orang-orang biasa yang melakukan hal itu, beberapa karyawan pemerintahan pun sempat-sempatnya menggunakan kendaraan “menikmati” bencana tersebut..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s