BALADA KRISIS MERAPI 2

Masih dalam pasca kerisi merapi. Barusan gw berkunjung ketempat pengungsian yang paling dekat dengan kos gw, yaitu kampus gw sendiri. kampus universitas islam indonesia yang letaknya bisa di bilang cukup aman dengan puncak merapi, dijadikan tempat pengunsian para warga yang terkena dampak ketidak amanan merapi saat ini. para pengungsi di lokasikan di gedung olah raga yang bisa di bilang mempunyai daya tampung yang cukup besar.

Ini berawal dari rasa keingintauhuan gw, dan temen kos gw untuk berkunjung kesana. Bukan hanya sekedar tebar pesona dengan para pengungsi, kami pun berinisiatif mengmpulkan baju baju yang masih layak pakai dan uang alakadarnya untuk disumbangkan nantinya.

Setibanya di gorUII, kami melihat pemandangan yang selayak tempat pengungsian. Orang-orang duduk dan tidur beralaskan tikar dan karpet seadanya. waktu gw datang, para pengungsi sedang dihibur dengan penampilan dari mas opik. Cukuplah untuk mengisi kegaringan di tempat pengungsian. Selain dihibur dengan senandung senandung yang dilantunkan oleh mas opik, pengungsi juga di tabahkan dengan siraman rohani yang dari kiayi yang tidak gw kenal, tapi kayanya populer.

Tidak berlama lama, setelah menyerahkan apa yang bisa kami berikut, kami pun langsung cabut dari tempat pengungsian itu. sesampai di kos, gw berencana untuk kembali berkonsentrasi dengan tugasakhir gw. ketika sedang asik bermain dengan keyboard yang mengeluarkan bunyi khas tak bernada, gw merasakan sesuatu. Gw merasakan apa yang tidak biasa. Gemuruh merapi yang sedang gelisah terdengar hingga bisa membuat jendela kamar gw bergetar pelan. Gempa tektonik yang cukup pelan tapi berjalan cukup lama, sudah bisa membuat seluruh penghuni kos kos an ini keluar semua. Kami semua saling menyamakan persepsi. Ternyata benar, semua orang merasakan apa yang aku rasakan, ini erupsi merapi. Tak lama kemudia, hujan krikil sudah mulai berjatuhan di atas kosan gw. keadaan belum panik.

ketika lampu padam, barulah kepanikan memecah. Semua orang, mulai berlarian mengambil motor, dan kabur ntah kemana. Gw masih tenang. Gw berencana mengungsi kehotel dimana om gw sedang menginap disitu. Baru gw mau ngeluarin motor, temen gw yang dengan wajah paniknya berkata,” jek…ikuuuutttt”. Ngungsi kehotel yang penuh dengan kehangatan, bayangan tidur nyenyak dengan selimut, mandi air hangat menenangkan, dan sarapan pagi yang enak, punah lah semua. Pengungsian yang enak tergantikan dengan pelarian dari kepanikan sejauh jauhnya.

Tapi ternyata pelarian tidak berjalan dengan mulus, kami berdua di dera gejala sakit perut di kala panik. Setelah melalui perundingan yang sangat singkat, kami memutuskan untuk boker bersama di tengah kepanikan. Boker bersama bukan berarti boker berdua dalam satu kamar mandi yang sama. Kamar mandi yang bersebelahan di isi oleh kami berdua yang sedang melakukan aktifitas yang sama, boker. Kami pun saling bersaut sautan untuk memastikan di antar kami tidak ada yang pergi duluan. Selesai boker pun, keadaan makin parah dengan hujan lumpur yang cukup deras. mantel gw langsung kotor. Baru sampai di belokan depan kos, kami memutuskan untuk balik lagi. Kami berinisiatif untuk mengambil baju ganti yang nanti akan kami gunakan di mana kami mengungsi. Ketika sampai di kos, semangat mengungsi menjadi hilang. Kami lebih memilih stay dikos, toh ini hanya hujan lumpur. Gw berpikir, pasti bakal kotor kotoran, males bangettt. Akhirnya kami pun stay di kos hingga pagi menjelang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s