indonesia tanpa film barat

“Apa??, film barat mau diboikot dari indonesia??” Rumor yang tidak jelas ini tentu membuat para pecinta film barat yang penuh dengan special efek dan memanjakan mata, walaupun terkadang kulitas jalan ceritanya tidak jauh berbeda denga film indonesia,menjadi sangat kecewa.

sebenarnya masalahnya bukan tidak bisanya para pecinta film tersebut(termasuk saya) untuk menonton film barat lagi. Ini masih bisa diakali dengan DVD bajakan yang berareda merajalela, atau dengan cara mendownload dari internet yang menurut saya kulitas suara dan gambarnya sudah sangat memadai. Tapi masahal sebenarnya adalah kenikmatan menonton di bioskop itu sangat susah dicari.

Tidak semua orang itu banyak uang dan cukup mampu untuk membeli seperangkat home teater yang harganya terbilang cukup mahal. Atau yang lebih gila yaitu dengan cara membangun sebuah ruangan sendiri, sejenis stuido mini yang kedap suara dan anti gema.

Menonton di bioskop ada sensasi sendiri. Menurut saya, mulai dari awal masuk bioskop pun ada suasana refresing yang menyenangkan yang terasa, ntah itu persaan saya saja atau memang begitu adanya. Apalagi kalo menonton di biokop yang suaranya, getaranya, kegelpannya, membuat film yang kita tonton begitu terasa hebatnya(yang ini hanya berpengaruh terhadap film action atau animasi).

Terus apa jadinya kalo biokop indonesia tidak ada film barat?? sering kali saya mendengar beberapa pendapat teman saya tentang film indonesia” nontonfilm indonesia kok dibioskop, rugi dong, mending nonton di tv sendiri”. Saya sendiri kurang setuju dengan pendapat ini, walaupun keadaanya memang hampir selalu saya lakukan. Masih mending sih kalo nonton di rumah itu dengan VDC original, lah ini bajakan/ download. Kontri busi apa yang bisa kami berika selaku penotnon yang mau enaknya ajah? Kalo kaya gini terus,bagaimana film indonesia mau maju. “habis sekarang film indonesia lebih sering menampilkan kisah para setan yang berpikiran saru sih,” pendapat tersebut memang tidak bisa di pungkiri lagi. jadi kalo kaya gini siapa yang salah? penonton yang merasa rugi untuk film nggak bermutu, atau para pembuat film yang nggak mau bikin film bermutu??

Terus, apakah dengan boikotnya film barat ke indonesia dapat menjamin perfilman indonesia semakin  berkualitas?? siapa yang berani jamin? atau paling nggak meramalkan dengan logika.  menurut saya sih selama pemikiran para pembuat film itu masih  horor dan sex, ya jangan harap kami para penonton akan membeli vcd original dari film kalian. “tapi kan pasaran di indonesia memang lagi doyan doyannya dengang film seperti itu,” jika memang keadanya memang seperti itu, saya tidak jadi menyalahkan pembuat film tersebut. jadi film yang bagus itu seperti apa?? maaf saya bukan kritikus film, saya hanya penonton yang cuma bisa bilang film itu bagus kalo cocok dengan selera saya.

Saya juga nggak menvonis film indonesia itu nggak bermutu semua, ada film sang pencerah, 3 dunia2 hati satu cinta, dan beberapa film lain yang yang tidak horor saru, itu sangat bagus di tonton, ada pesan moral didalamnya. jadi menurut saya, maju atau tidak perfilman indonesia itu  semuanya ada di tangan para sutradara berbakat itu. apakah mereka masih idealis dengan ide mereka, atau mereka akan tetap realistis dengan minat penonton horor sexs indonesia yang lagi naik daun?? Hanya allah yang tau.

Masih dalam masalah boikot film barat ke indoneisa. Sebenarnya kita itu perlu nggak sih notnon film barat?? Apakah dengan tidak ada film barat, kita tidak bisa hidup, seperti yang kita rasakan ketika internet mati yang langsung terhubung dengan daya kreatifitas yang ikut ikutan mati??(yang ini gw ajah kali yah). Kalo menurutu saya sendiri, kita itu perlu nonton fim barat, lebih tepatnya film yang berasal dari luar indonesia. Sekarang jaman globalisasi bung, sudah seharusnya kita harus mebuka lebar lebar jalan pikiran kita dengan mamasukan semua refrensi yang ada di dunia. jangan hanya terfokus dengan pula pikir dengan bangsa sendiri, lihat lah keluar. bukan berarti diluar itu juga lebih baik yah, tapi setidaknya kita tau. ” tau” itu jauh lebih baik dari pada “tidak tau”. Masalah apakah pola pikir kita terpengaruh dengan budaya luar atau tidak, itu kembali kepada diri masing masing, bukan kepada istri tetangga yang sering nyiram tanaman di sore hari.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s