designing tips (sketch make it so easy)

Cara yang paling mudah dalam menghasilkan sebuah karya seni digital adalah dengan cara membuat sketsa terlebih dahulu. Nantinya sketsa akan berguna sebagai garis besar dalam karya itu sendiri. Proses ini banyak menyebutkan dengan nama “traccing”, yaitu mendigitalkan gambar analog. Contohnya sebagai berikut.

yang tadinya seperti diatas, menjadi seperti dibawah

semoga bermanfaat…..

WISUDAKU….

Bahagia tapi melelahkan, melelahkan tapi bahagia. Kurang lebih begitulah acara wisuda. Alhamdulillah tanggal 23 april ini aku wisuda. Aku ingin berbagi cerita tentang wisudaku.

Aku berangkat pagi, pagi sekali. Ini karena sifat ayahku yang sangat menghargai waktu. Darinyalah kami empat saudara didik untuk belajar tidak membuang buang waktu. Denga kata “cepat cepat cepat” selalu membuat kamu terburu-buru hingga kecil. Efeknya adalah sekarang, kami berempat sangat menghargai waktu. Tapi sekarang ayah terus mendidik kami dengan kata “cepat cepat cepat”nya itu. Walaupun terasa sangat membosankan karena kami sudah bukan anak kecil lagi. Tapi tak apalah, biarkan nasehat itu menjadi selingan telinga kanan telinga kiri ini.

Tak lama aku, ayah, dan mamahku pun sampai di tempat pelaksanaan wisuda. Baru keluar dari mobil, gw udah dihadang oleh fotografer jadi jadian. Alias pas wisuda ajah jadi fotografernya, hehehe. Jadi keinget gw dulu yang juga sering iseng cari duit dari acara wisuda seperti ini.

Pertama tama yang harus dilakukan oleh para wisudawan dan wisudawati ketika datang di acara ini adalah presensi. Setelah melakukan presensi, gw mengambilkan snak untuk orang tua gw. Setelah itu gw berpisah dengan mereka. Gw pun mulai berkeliling tidak jelas, mencari seorang teman yang bisa diajakin ngobrol sambil menunggu acara ini dimulai.

Persis seperti orang linglung, gw celinga celingu mencari teman. Tidak ada teman satu jurusan, gw pun gabung dengan anak farmasi yang waktu itu beberapa diantara ada yang gw kenal. Tak lama kemudia barulah gw berhasil menemukan segrombolan anak informatika. Dan dengan tanpang sok cool gw, gw beragabung dengan mereka.

Teringat pesan anak kos gw yang udah tua,” waktu yang tepat untuk foto foto adalah ketika masih pagi, masih fress,”kurang lebih begitu katanya. Maka dari itu, dengan bersenjatakan kamera poket yang imut imut, gw berfoto2 dengan setiap teman yang gw temui berserakan di area ini.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Jam 7 lebih barulah kami para wisudawan dan wisuda wati bisa masuk kedalam ruangan aduitorium yang digunakan pelaksanaan acara wisuda ini. Gw melihat sekeliling, ku perhatikan semua wajah yang tersenyum itu. Ini kah kebahagian atas kelulusan anak anak mereka?? Itukah senyum mereka atas keberhasilan mereka?? Itulah wisuda, semua orang berbahagia di sini, di dalam ruangan ini.

Setelah kami menempati tempat duduk masing masing yang sudah bernomer sesuai dengan nomer absen kami. Tak lama kemudia, rector , para dekan, para kajur, memasuki ruangan dengan diawali hentakan tonkat sakti yang berbunyi krincing kringcing. Bagi gw yang pertama kali mengikuti acara ini, gw merasa cukup unik dengan tonkat itu. Sesakral itukah tonktat tersebut dalam acara wisuda??

Ada 600 lebih orang yang akan diwisuda kali ini. Angka yang cukup banyak untuk menunggu, menanti nama gw untuk dipanggil. Semoga nama gw bukanlah berada di akhir dari daftar 600 orang tersebut. Tak lama kemudia nama gw dipanggil. Dan sambil tersenyum mesem mesem gw menuju kedepan untuk dipindahkan tali topi toga gw dari kiri ke kanan.

Ada beberapa keunikan dalam wisuda kali ini. Ada seorang anak yang bernama muamar kadafi dan yusril hezra mahendra. Lansunglah ketika nama itu disebut seisi ruangan ini langsung ricuh dengan nama tersebut.

Dibagian akhir dari wisuda kali ini adalah sambutan dari bapak rektor kami. Ternyata, setelah sekian lama gw kuliah disini, ini adalah pertama kalinya gw melihat secara langsung wajah rektor gw. Dan setelah mendegarkan pidatonya, ternyata rektor gw bukanlah seorang yang kaku, melainkan seorang yang gaul.

Selesailah sudah acara wisuda ini.

KURA-KURA Yang Terbuang

Di kosan ini memiliki beberapa cerita unik. Salah satunya cerita tentang kura-kura yang tidak jelas pemiliknya, namanya, dan kelaminya. Sudah hampir satu tahun ini kura-kura tersebut tidak terurus. Munkin hanya gw yang dengan “pri kehewanan” gw sesekali menganti air yang mulai menhijau itu dengan air yang baru yang jernih. Siklus makan kura kura ini pun sering tidak jelas. Kalau ada yang baik, munkin dia akan yang diberikan makan. Kalau tidak, dengan deritanya, kura kura tersebut menahan lapar hingga titik pertahan terakhirnya. Siapa kah kura-kura itu sebenarnya??? Maka dari itu, tulisan ini gw beri judul, “kura kura yang terbuang”.

“aku tidak tau siapa aku, apa gunanya aku, apa kelaminku, siapa pemilikku, dan tujuan aku hidup. Satu hal yang aku tau tetang diriku sendiri, aku adalah sekor kura-kura, kura-kura yang terbuang.

Setiap hari aku habiskan dengan melamun di sebuah aqurium kotak yang ukuranya tidak lebih dari 40cm x 25 cm. Bisa kalian bayangkan betapa sesangsaranya aku terkurung di dalam kotak sekecil itu. Dulu munkin aku masih senang, tapi sekarang tidak, karena tubuh ku dulu tak begini. Ku tumbuh besar tambah tinggi gara gara scotemolsion, ntahlah apa namanya.

Aku berenang kesana kemari, selalu berusaha untuk mendoktrin diriku sendiri. Ini adalah lautan besar, kolam besar tanpa batas. Semua ini hanya halusinasi. Dotrin itu terus yang aku coba tanamkan dalam otakku, walaupun aku tau sebenarnya aku tak bisa karena aku bukan romi rafael atau dedy corbuzier.

Sebenarnya dulu aku tidak seperti ini. Aku dulu dibeli oleh seorang mahasiswa kaya raya yang suka membeli barang yang dia inginkan tanpa tau kelanjutan barang tersebut, berguna atau tidak. Jadilah aku ini, kura-kura buangan yang tidak berguna. Sekarang yang aku tau, majikanku lebih perhatian dengan pacarnya yang sering kulihat keluar masuk kamar terus. Huft dasar manusia, udah ketemu enaknya jadi lupa amanatnya, persis kaya anggota dpr.

Tapi apa peduliku, aku bukan manusia, aku hanya kura-kura yang ingin bebas. Aku ingin menjelajah perairan luas, bertemu dengan kura kura lain, menikah,punya anak, dan mati dengan kehormatan. Tidak seperti ini, mati dalam aquarium. Betapa lossernya diriku.

Kadang terlintas dalam pikiranku, aku ingin mati. Tapi dengan apa?? Megang pisau aja aku tak sanggup, apa lagi sampe megang bom. Kadang aku heran dengan pemberitaan bunuh diri yang dilakukan manusia. Betapa indahnya hidup di luar aquarium ini, mengapa mereka ingin mati begitu cepat??? Ntah lah, yang jelas aku ingin bebas.

Ntah sampai kapan aku begini, begini, melewati hidup tanpa makna,tanpa arti, tanpa pasangan, tanpa bercinta. Aku pernah mendengar manusia berkata,” hidup itu ibarat roda, kadang di atas kadang di bawah,”. Tapi bagi ku, inilah hidup. Hidup itu adalah aquarium ini, tidak lebih.

Hidup adalah aquarium…”

Seminggu bersamanya….

Kepulangan gw kebalikpapan mempunyai dua tujuan. Yang pertama, gw mau ikut bursa kerja yang diadakan oleh pemerintahan kota samarinda. Yang kedua, gw ingin ketemu dengan pacar saya. Jauh di dalam hati gw, prioritas ketemu pacar lebih tinggi dibandingkan mengikuti bursa kerja. Bursa kerja gw jadikan alasan agar kepulangan gw tidak terkesan hanya buang buang biaya semata.

Bursa kerja membutuhkan waktu hingga 3 hari, dan gw memutuskan untuk seminggu untuk bersamanya. Waktu yang cukup untuk sedikit merasakan bagaiamana gaya berbacaran jika kami dalam jarak yang dekat. Kegiatan antar jemput pun sudah mutlak dilakukan oleh seorang cowo kepada pacarnya. Dia selalu bilang ingin dijemputin ama pacar kalo pulang kerja. Dan sebenarnya gw juga ingin menjemput pacar gw yang baru pulang kerja. Selalu ada adegan romantis di dalamnya. Dan selama seminggu itu gw melakukan rutinitas itu.

Dalam waktu seminggu apa ajah yang terjadi dengan kami…?? Foto sana dan foto sini…hihihii