sepenggal kisah pernikahan

Hi blog, apa kabar. Lama sudah tak bercerita.

Sepertinya dirimu berdebu sekali. Persis seperti kamar yang ditinggalkan penghuninya bertahun tahun.

Hi blog, masih bolehkan gue menuliskan sepenggal kisah di halaman mu lagi????? Boleh kan?? Boleh dong.

Blog, bisnis foto ku kini masih seperti ingus. Kadang naik kadang turun. Kadang juga gitu gitu aja. Tapi gue masih percaya. Gua masih kurang pemasaran aja. Secara dari kualitas, hmmm bolelah.

Oh iya… Alhamdullilah gua sudah nikah dan alhamdulillah gua sudah boleh kawin. #aseeekkk

Mau tau gak blog gimana akhir gua bisa nikah??? Cukup satu syaratnya….berani!!

Berani dengan mengambil keputusan, dan berani mengabil resikonya. Tapi semua ini gue beri nama “tantangan” ya..”tantangan sebagai laki laki” #tsah

Persis seperti ceramah yang di sampaikan ketika akat nikah gue.” selamat menempuh hidup baru, masalah baru, dan tantangan baru”.

Menuju ke pernikahan itu terkadang tidak mudah. Ada saja yang hal hal kecil yang membuat perjalanan sedikit goyang goyang kecil, atau malah goyang goyang besar. Persis seperti goyang penyanyi dandut panggung di kampung kampung sebelah. Awalnya  goyang kecil, hingga akhir panggung pun bergetar akibat goyangan nya. #apaseh.

Permasalahan pun nggak hanya satu. Tapi banyak. Ada yang berlapis pula. Mulai dari masalah ngomong ke orang tua. Finansial. Hingga godaan perasaan yang terkadang membuat kita ragu dan bertanya pada diri sendiri,”yakin dia? Yakin sekarang? Ada yang lebih bening tuh”. Secara pernikahan itu adalah hal yang diinginkan hanya terjadi sekali dalam seumur hidup. Nikah juga tidak sama seperti pacaran yang bisa putus sesuka hati, dan balikan lagi sesuka hati. Hmmm . Dan yang terakhir, nikah itu bukan hanya soal cinta, tapi soal janji. Janji untuk setia, janji untuk tetap mencinta. Janji untuk menafkahi, janji untuk menghadapai masalah bersama.

Gue pernah baca catatan kecil yang ntah gua lupa dimana gua melihat. Kira kira begini bunyi tulisanya” jatuh cinta itu biasa, tetap mencintai itu luar biasa”

Setelah perundingan penuh dengan perhitungan sakral menurut penangalan islam. Maka diputuskan tanggal pernikahan kami. 16 dan 17 agustus. Wew sekalian pengibaran bendera dong. Hohoho. Gue mikir ada untungnya juga siy menikah di tanggal libur national. Bisa happy aniversarry sambil begadang malamnya. Secara besoknya libur juga. Heheheh. Taukan maksudnya “begadang ”

Akad nikah berlangsung malam hari bada isya. Gue nunggu di tempat keluarga istri gue yang kebetulan tidak jauh dari tempat acara terlaksana. Setelah semua siap, gue pun bergegas untuk berangkat. Rombongan mulai berbaris. Gue di tengah. Samping kanan dan kiri gue emak babe gue. Dan belakang belakang ada kakak gue, sepupu gue, hingga soadara jauh yang sering gue gak tau namanya tapi tau tampang nya. Hehehee.

Pernikahan gue pake adat setempat yang nggak jelas adatnya apa. Ada banjar ada kutai ada madura. Secara samarinda bukanlah kota asal. Tapi kota yang berisi pendatang dari berbagai suku bangsa.

Alhamdulillah akat nikah terucap sekali. Yakin, tegas dan jelas. Sah sah sah barakauloh…..

Setelah itu keluarlah istri gue dari tempat persembunyiannya. Semua nya terasa berbeda. Dia terlihat berbeda. Lebih cantik, lebih menggemaskan. Dan tentunya semua ini  gue sambut dengan  senyum  mupeng ala malam pertama. Oh semoga tidak ada yang menyadari senyuman itu. Eaaeaeeaaeaa

Setelah itu ceramah dan beberapa sesi foto bersama keluarga dan teman yang hadir.

Tak lama kemudian semuanya menjadi remang remang dan penuh dengan kemesraan. Eaaaaaa

Lanjut cerita resepsi di postingan berikutnya.

 

 

 

2 pemikiran pada “sepenggal kisah pernikahan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s